Strategi Dan Model Pembelajaran Bahasa Arab
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Nana : Sitti Munawwarah
Nim : 18133015
Prodi : PBA-1
Semester : IV (empat)
Mata Kuliah : Strategi Dan Model Pembelajaran Bahasa Arab
Dalam proses pembelajaran bahasa, diperlukan kreativitas guru dalam memilih dan memadukan beberapa metode dan teknik pembelajaran. Oleh karena itu para guru bahasa dan mahasiswa jurusan pendidikan bahasa perlu memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai pendekatan, metode, teknik, dan termasuk strategi pembelajaran bahasa. agar dalam kegiatan pembelajaran dapat terlaksana dengan maksimal. Untuk itu kami akan merangkum/menguraikan hal- hal yang berkaitan dengan beberapa strategi pembelajaran dalam bahasa khususnnya dalam bahasa Arab.
A. Pengertian Strategi Pembelajaran
Strategi berasal dari bahasa yunani yaitu strategos yang artinya suatu usaha untuk mencapai suatu kemenangan dalam suatu peperangan awalnya digunakan dalam lingkungan militer namun istilah strategi digunakan dalam berbagai bidang yang memiliki esensi yang relatif sama termasuk diadopsi dalam konteks pembelajaran yang dikenal dalam istilah strategi pembelajaran.
Menurut J.R David (1976) strategi pembelajaran adalah perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Sementara itu dick and Carey (1985) berpendapat bahwa strategi pembelajaran adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar siswa/peserta latih.
Merujuk dari pendapat diatas strategi pembelajaran dapat dimaknai secara sempit dan luas. Secara sempit strategi mempuanyai kesamaan dengan metoda yang berarti cara untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. Secara luas strategi dapat diartikan sebagai suatu cara penetakapan keseluruhan aspek yang berkaitan dengan pencapaian tujuan pembelajaran, teramasuk perencanaan, pelaksanaan dan penilaian.
B. Beberapa Yang Berkaitan dengan Strategi Pembelajaran
Setelah mencermati konsep strategi pembelajaran, kita perlu mengkaji pula tentang istilah lain yang erat kaitannya dengan strategi pembelajaran dan memiliki keterkaitan makna yaitu:
1. Pendekatan Pembelajaran
Dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu. Artinya pendekatan merupakan suatu langkah awal untuk kebutuhan pembelajaran baik dari pendidik ataupun peserta diidiknya. Yang kemudian dari pendekatan tersebut dijabarkan pada model pembelajaran, strategi atau metode pembelajaran, teknik pembelajaran serta taktik pembelajaran.
2. Model Pembelajaran
Model Pembelajaran ialah, pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran dikelas maupun tutorial. Menurut Arends yang dikutip dalam bukunya Agus Suprijono, menyebutkan bahwa model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk didalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap dan kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan pengelolaan kelas.
3. Strategi Pembelajaran
Strategi adalah rancangan serangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu; sedangkan metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan strategi. Dengan demikian stretegi dan metode itu tidak bisa dipisahkan. Strategi dan metode pembelajaran harus dirancang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
4. Metode Pembelajaran
Metode merupakan upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah tersusun tercapai secara optimal. Metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan, dengan kata lain metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi.
5. Teknik Pembelajaran
Teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode. Misalnya cara yang harus dilakukan agar metode ceramah berjalan efektif dan efisien. Dengan demikian, sebelum seseorang melakukan proses ceramah sebaiknya memperhatikan situasi dan kondisi. Misalnya, berceramah pada siang hari setelah makan siang dengan jumlah siswa yang banyak tentu saja akan berbeda jika ceramah itu dilakukan pada pagi hari dengan jumlah siswa yang terbatas.
6. Taktik Pembelajaran
Taktik adalah gaya seseorang dalam melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu. Taktik sifatnya lebih individual walaupun dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah dalam situasi dan kondisi yang sama sudah pasti mereka akan melakukannya dengan cara yang berbeda, misalnya dalam taktik menggunakan ilustrasi atau menggunakan gaya bahasa agar materi yang disampaikan mudah dipahami.
C. Komponen Umum Strategi Pembelajaran
Untuk melaksanakan strategi pembelajaran, maka harus ada komponen-kompenen yang harus diperhatikan. Menurut Dick dan Carey (1978) dalam Hamzah B.Uno, menyebutkan bahwa terdapat 5 komponen strategi pembelajaran, yaitu:
1. Kegiatan Pembelajaran Pendahuluan
Kegiatan pendahuluan sebagai bagian dari suatu sistem pembelajaran secara keseluruhan memegang peranan penting. Kegiatan pendahuluan yang disampaikan dengan menarik akan dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
Secara spesifik, kegiatan pembelajaran pendahuluan dapat dilakukan melalui teknik-teknik berikut, yaitu:
a. Menjelaskan tujuan pembahasan khusus yang diharapkan dapat dicapai oleh semua peserta didik di akhir kegiatan pembelajaran. Dengan demikian peserta didik akan mengetahui ketrampilan dan manfaat yang akan didapat dari pokok pembahasan tersebut. Demikian juga, guru dalam menyampaikan tujuan hendaknya menggunakan kata-kata dan bahasa yang mudah dimengerti oleh peserta didik. Pada umumnya penjelasan dengan menggunakan ilustrasi kasus dalam kehudupan sehari-hari yang dialami peserta didik akan lebih mudah untuk dipahami.
b. Lakukan appersepsi, berupa kegiatan yang merupakan jembatan antara pengetahuan lama dan pengetahuan baru yang akan di pelajari. Disini guru dapat menunjukkan eratnya hubungan pelajaran yang akan dipelajari oleh peserta didik. Dengan kegiatan ini dapat menimbulkan rasa mampu dan percaya diri sehingga dapat menghilangkan rasa cemas dan takut menemui kesulitan atau kegagalan.
Dalam Pembelajaran Pendahuluan, perlunya menjelaskan tujuan pembelajaran , karena tujuan pembelajaran memiliki ciri penting dalam kegiatan belajar mengajar dengan tujuan memberikan arah yang jelas dan dapat diartikan sebagai suatu cita-cita yang ingin dicapai pelaksana suatu kegiatan. Dengan membentuk peserta didik dalam suatu perkembangan tertentu. Inilah yang disebut dengan kegiatan pembelajaran “sadar tujuan”.
Jadi, pentingnya pembelajaran pendahuluan ini agar peserta didik dapat paham apa tujuan dan manfaat dari pokok bahasan tersebut.
2. Penyampaian Informasi
Penyampaian informasi seringkali dianggap sebagai suatu kegiatan yang paling penting dalam proses pembelajaran, padahal ini hanya salah satu bagian dari komponen strategi pembelajaran. Artinya tanpa adanya kegiatan pendahuluan yang menarik yang memotivasi peserta didik dalam belajar maka kegiatan penyampaian informasi ini jadi tidak berarti.
Dalam kegiatan ini, guru juga harus memahami dengan baik situasi dan kondisi yang dihadapinya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyampaian informasi adalah urutan ruang lingkup dan jenis materi:
a. Urutan Penyampaian
Urutan penyampaian materi pelajaran harus menggunakan pola yang tepat. Urutan materi yang diberikan berdasarkan tahapan berpikir dari hal-hal yang bersifat konkret ke hal-hal yang bersifat abstrak atau dari hal-hal yang sederhana atau mudah dilakukan ke hal-hal yang lebih kompleks atau sulit dilakukan. Urutan penyampaian informasi yang sistematis akan memudahkan peserta didik cepat memahami apa yang ingin disampaikan oleh gurunya.
b. Ruang lingkup materi yang disampaikan
Besar kecilnya materi yang disampaikan atau ruang lingkup materi sangat bergantung pada karakteristik paserta didik dan jenis materi yang di pelajari. Umumnya ruang lingkup materi sudah tergambar pada saat penentuan tujuan pembelajaran.
Yang perlu diperhatikan oleh guru dalam memperkirakan besar kecilnya materi adalah:
1) Apakah materi akan disampaikan dalam bentuk bagian-bagian kecil seperti dalam pembelajaran terprogram (Programmed Instruction)
2) Apakah materi akan disampaikan secara global/keseluruhan dulu baru ke bagian-bagian. Keseluruhan dijelaskan melalui pembahasan isi buku, dan selanjutnya bagian-bagian dijelaskan melalui uraian per bab.
c. Materi yang akan disampaikan
Materi pelajaran umumnya merupakan gabungan antara jenis materi yang terbentuk pengetahuan (fakta dan informasi yang terperinci), ketrampilan (langkah-langkah, prosedur, keadaan dan syarat-syarat tertentu) dan sikap (berisi pendapat, ide, saran atau tanggapan) (Kemp, 1997). Karena itu, dalam menentukan strategi pembelajaran, guru harus terlebih dahulu memahami jenis materi pelajaran yang akan disampaikan agar diperoleh strategi pembelajaran yang sesuai.
3. Partisipasi Peserta didik
Proses pembelajaran akan lebih berhasil apabila peserta didik secara aktif melakukan latihan-latihan secara langsung dan relevan dengan tujuan pembelajaranyang sudah ditetapkan. Terdapat beberapa hal yang penting yang berhubungan dengan partisipasi peserta didik, yaitu:
a. Latihan dan praktek seharusnya dilakukan setelah peserta didik diberi informasi tentang pengetahuan, sikap atau ketrampilan tertentu. Selanjutnya peserta didik diberi kesempatan untuk berlatih atau mmempraktekkan pengetahuan, sikap atau ketrampilan tersebut.
b. Umpan Balik
Segera setelah peserta didik menunjukkan perilaku sebagai hasil belajarnya, maka guru memberikan umpan balik (feedback) terhadap hasil belajar tersebut. Melalui umpan balik yang diberikan oleh guru, peserta didik akan segera mengetahui apakah jawaban yang merupakan kegiatan yang telah mereka lakukan itu benar/atau salah, tepat/tidak tepat atau ada sesuatu yang diperbaiki, diharapkan perilaku tersebut akan dihilangkan atau peserta didik tidak akan melakukan kesalahan serupa.
4. Tes
Kegiatan tes yang berbentuk penilaian dala proses belajar merupakan kegiatan mutlak yang harus dilaksanakan oleh guru dalam pembelajaran. Oleh karena itu guru perlu untuk memiliki kemampuan dalam menilai hasil belajar siswa. Penilaian belajar dalam kegiatan akhir pembelajaran (posttest), tujuannya adalah untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa setelah mengikuti pelajaran tersebut.
Pelaksanaan tes biasanya dilakukan diakhir kegiatan pembelajaran, penyampaian informasi berupa materi pelajaran pelaksanaan tes juga dilakukan setelah peserta didik melakukan latihan dan praktik.
Perlu diperhatikan sebelum melaksanakan kegiatan penilaian akhir, guru harus mengkondisikan siswa, supaya siswa secara maksimal dapat mengorganisasikan (pemahaman) kembali tentang materi pelajaran yang telah dibahas.
Setelah melaksanakan kegiatan penilaian guru harus mengkaji apakah hasil belajar tersebut sesuai dengan tujuan pembelajaran? Apakah tingkat ketercapaian siswa dalam kelas/individu terhadap tujuan pembelajaran sudah mencapai pada batas/tingkatan (presentase) minimal? Dari hasil semuanya, maka guru akan memperoleh gambaran kegiatan tindak lanjut yang bagaimana yang harus diberikan pada siswa.
5. Kegiatan Lanjutan
Kegiatan lanjutan/tindak lanjut npembelajaran dilakukan di luar jam pelajaran, sebab kegiatan akhir alokasi waktunya relatif sedikit. Melaksanakan kegiatan lanjutan pembelajaran secara prinsip ada hubungannya dengan kegiatan belajar sebelumnya.
Kegiatan yang dikenal dengan istilah “follow up” dari suatu hasil kegiatan yang telah dilakukan seringkali tidak dilaksanakan dengan baik oleh guru. Dalam kenyataannya, setiap kali setelah tes dilakukan selalu saja terdapat peserta didik yang berhasil dengan bagus atau di atas rata-rata (a) hanya menguasai sebagian atau cenderung di rata-rata tingkat penguasaan yang diharapkan dapat dicapai, (b) peserta didik seharusnya menerima tindak lanjut yang berbeda sebagai konsekuensi dari hasil belajar yang bervariasi tersebut.
Jadi kegiatan lanjutan ini dilakukan untuk menindak lanjuti hasil penilaian peserta didik pada akhir penbelajaran tentunya dengan tindak lanjut yang berbeda setiap peserta didik. Bagi peserta didik yang tidak mencapai hasil sesuai dengan tujuan pembelajaran makalah peserta
akan diberikan remedial dan bagi peserta didik yang sudah mencapai nilai yang sesuai dengan tujuan dari pembelajaran itu, maka akan mendapatkan pengayaan.
D. Jenis-jenis Strategi Pembelajaran Bahasa Arab
Variasi Strategi pembelajaran akan membantu siswa untuk secara aktif dapat menggunakan sel-sel otak mereka untuk turut serta memecahkan persoalan, menemukan ide pokok dari suatu materi pelajaran, dan tentu saja secara aktif akan mendominasi aktifitas pembelajaran. Dengan cara ini, terciptalah suasana yang lebih menyenangkan dan membisakan karena hasil belajar dapat dimaksimalkan. Adapun jenis-jenis strategi pembelajaran Bahasa Arab adalah sebagai berikut :
1. Metode Pembelajaran Menyimak
Pembelajaran menyimak ada dua macam, yaitu: pertama, menyimak untuk keperluan pengulangan. Menyimak dalam model ini menuntut siswa untuk menyimak teks kemudian mengulang dari apa yang didengarnya. Kedua, menyimak untuk keperluan memahami teks dengan baik, dapat membedakan mana ide pokok dan mana ide tambahan, dapat memahami alur cerita dalam teks dan sebagainya. Strategi yang dapat digunakan dalam pembelajaran menyimak adalah sebagai berikut:
a. Ta’lim Muta’awin. Strategi ini memberi kesempatan kepada siswa untuk saling berbagi hasil belajar dari materi yang sama dengan cara berbeda dengan membandingkan catatan hasil belajar.
b. Talkhis Magza. Metode ini dapat menguji kemampuan menyimak siswa terhadap isi cerita. Jawaban siswa terhadap pertanyaan (apa, bagaimana, mengapa, kapan, dimana) yang kemudian disintesiskan ke dalam suatu kalimat singkat, padat, dan jelas sehingga dapat menumbuhkan proses berfikir kreatif kritis terhadap topik yang diberikan.
c. Istima’ Mutabadil. Metode ini dapat mengiringi siswa untuk tetap konsentrasi dan terfokus pada materi pelajaran yang sedang disampaikan. Ia berguna untuk membentuk kelompok-kelompok yang bertanggung jawab pada tugas yang terkait dengan materi.
d. Istima’ al-Aghani. Metode ini membantu siswa untuk selalu tanggap dengan cermat, dan tepat dalam memahami dan memaknai syair dan dinyanyikan.
e. Istima’ al-Ma’lumat au al-Akhbar. Pada metode ini, konsentrasi siswa akan terfokus untuk tetap utuh meskipun dalam rentang waktu yang cukup lama. Siswa dapat menyimak dengan seksama sebuah informasi sambil mendalami, keruntutan bahasanya, dan tingkat komunikasinya.
f. Istima’ al-Musykilat. Metode ini digunakan untuk meningkatkan rasa empati siswa pada sesamanya. Siswa dapat memahami keluh kesa siswa yang lain dan menawarkan solusi edukatif dalam penyelesaiannya.
2. Metode Pembelajaran Berbicara (Kalam)
Keterampilan berbicara dapat terwujud setelah keterampilan menyimak dan mengucapkan kosa-kata bahasa Arab. Keterampilan ini dapat berupa percakapan, diskusi, cerita atau pidato.
Dalam pengajaran kalam, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:
a. Siswa harus mempunyai topik yang dibicarakan.
b. Siswa harus mempunyai kosa-kata yang relevan dengan topik.
Strategi yang dapat digunakan dalam pembelajaran kalam adalah sebagai berikut:
a. Khibrat Mutsirah. Strategi ini digunakan untuk memotivasi siswa agar dapat mengungkapkan pengalaman-pengalaman yang pernah dialaminya berkaitan dengan teks yang akan diajarkan dan untuk mengajak keterlibatan siswa dalam melihat pengalaman mereka sejak awal pelajaran.
b. Ta’bir al-Ara’ al-Ra’issiyyah. Strategi ini penting untuk mengasah keberanian siswa dalam mengungkapkan bahasa Arab secara spontanitas kreatif, meski pada awalnya perlu penekanan bagi siswa untuk berani tampil, namun bila terbiasa ia akan melahirkan iklim yang kondusif lagi menyenangkan, di mana siswa mendapatkan kebebasan berekspresi melalui bahasa mereka sendiri.
c. Tamtsiliyyah. Strategi ini adalah sebuah aktiftas yang membutuhkan kemampuan siswa dalam mengekspesikan dialek bahasa Arab fusha dengan fasih sesuai makhrajnya, di samping dalam mengeksplorasikan kemampuannya dalam bermain peran.
d. Ta’bir Mushawwar. Melalui bantuan media gambar, siswa dapat membahasakan materi ajar dari presepsi yang ia bisa tangkap uraian guru melalui bahasanya sendiri.
e. Ya’lab Daur al-Madurris. Strategi ini memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk dapat berperan sebagai guru bagi kawan-kawanya.
f. Jial Fa’laal. Tema kontroversial adalah media berharga yang dapat menyulut motivasi belajar dan kedalaman pemikiran siswa dalam menghadirkan argumentasi penganut pendapatnya, meski mungkin bertentangan dengan keyakinannya.
3. Metode Pembelajaran Membaca (Qira’ah)
Dalam konteks pembelajaran bahasa Arab, membaca memiliki urgenitas tersendiri yakni:
a. Membaca merupakan kunci untuk membuka khazanah pengetahuan dan kebudayaan islam.
b. Long Life Education tidak akan terwujud kalau yang melakukannya tidak dapat membaca.
c. Memahami khazanah intelektual klasik dan modern.
Terdapat beberapa kesalahan dalam bacaan yang harus dihindari, di antaranya:
a. Tidak memperhatikan cara membunyikan huruf sesuai dengan makhrajnya.
b. Tidak ada alunan suara sesuai dengan tempatnya.
c. Mulai membaca tanpa memperhatikan dahulu tempat-tempat berhenti, seperti: koma, titik koma, dan titik.
d. Menyaringkan suara yang tidak perlu.
Strategi yang digunakan dalam ketermpilan membaca adalah sebagai berikut:
a. Qira’ah Muwajjahah. Qira’ah Muwajjahah merupakan salah satu strategi untuk mempelajari teks wacana dengan menggunakan penuntun yang berupa pertanyaan-pertanyaan, bagan, skema, dan sebagainya.
b. Mudzakarat al-Talamidz. Strategi ini digunakan untuk meningkatkan keaktifan dan keberanian siswa untuk mencari tahu sendiri dengan mempertanyakan hal-hal yang belum difahami dari materi bacaan.
c. Qira’ah Jahriyah. Strategi ni dapat membantu siswa dalam menghadirkan pemahaman dan konsentrasi secara tida langsung terhadap bacaan. Penekanan strategi ini terlihat bukan hanya dalam memahami teks bacaan, tapi juga pada ekspresi bahasa bacaan bahasa Arab yang baik dan benar.
d. Akhziyat al-Nash. Strategi ini digunakan untuk mempelajari teks wacana yang mempunyai beberapa segmen. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai jumlah segmen yang ada dalam teks wacana tersebut.
e. Talkhis Jama’i. Dalam strategi ini team building perlu dibangun semenjak awal, karena ia menuntut adanya kerjasama kelompok dalam bekerja. Strategi ini dapat membantu siswa menjadi lebih akrab dan saling berinteraksi dalam menuangkan gagasannya dalam memahami ide cerita.
f. Tartib al-Nash. Strategi ini digunakan untuk mengetahui kemampuan membaca dan memahami siswa atas teks bacaan. Strategi ini tidak ditujukan bagi siswa pemula, tapi untuk siswa tingkat lanjutan yang tela mengenal struktur kalimat bahasa Arab.
4. Metode Pembelajaran Menulis (Kitabah)
Keterampilan menulis harus diajarkan secara bertahap, mulai tahap terendah kemudian pada tahap yang lebih tinggi.
Strategi yang dapat digunakan untuk pembelajaran menulis ini adalah sebagai berikut:
a. Musyrakat al-Kitabah al-Fa’alah. Salah satu strategi yang dapat membuat siswa siap mengeksplorasikan gagasannya lewat tulisan. Strategi ini dapat digunakan untuk melihat tingkat kemampuan siswa dalam menulis, di samping untuk membentuk kerjasama tim.
b. Ta’bir al-Shuwar. Strategi ini sangat baik dipakai untuk melibatkan siswa dalam menemukan dan menuntut ide cerita secara sistematis.
c. Mafahin Ra’isiyyah. Strategi ini bermanfaat untuk merangkum isi teks wacana yang kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan atau pembicaraan. Rangkuman tersebut bebrbentuk gambar atau diagram tentang konsep-konsep yang saling berhubungan dengan garis panah.
d. Kitabat al-Nasyarat. Strategi ini digunakan untuk melibatkan siswa sejak awal dalam merespon proses belajar mangajar di dalam kelas, di samping guru dapat mengetahui efektifitas pembelajaran.
e. Kitabat al-Ma’lumat. Strategi ini cocok digunakan untuk meningkatkan rasa peduli siswa terhadap problematika kehidupan kemanusiaan di luar kelas. Dengan strategi ini, siswa diharapkan melihat lingkungan sekitar dan permasalahan yang ada sebagi bagian dari kehidupannya.
f. In’ikas al-Maudlu’. Strategi ini dapat menjadi eksperimen menarik bagi siswa untuk mengeksplorasikan objek langsung tersebut melalui kaca matanya.
g. Mudzakarah Muwajjahah. Dalam strategi ini, guru hendaknya telah menyiapkan bagan atau skema yang dapat membantu siswanya membuat catatan-catatan kecil dari meteri yang akan disampaikan. Ada banyak pola untuk strategi ini, salah satunya adalah mengisi titik-titik.
5. Metode Pembelajaran Kosa Kata (Mufradat)
Kosa kata merupakan bagian yang pokok dalam mempelajari bahasa, karena hakekat bahasa adalah sekumpulan kosa kata. Kosa-kata menjadi kebutuhan pokok ketika belajar bahasa Arab. Bagaimana mungkin kita bisa berbicara kalau kita tidak memiliki kosa-kata?, bagaimana mungkin kita akan membuat satu kalimat kalau kita tidak menghafal satu persatu kosa-kata yang kita temui ketika kita belajar bahasa Arab.
Siapkan buku kecil atau kertas khusus untuk kita menulis setiap kosa-kata yang kita temui, bedakan dan sendirikan antara kata kerja dengan kata benda atau kata sifat. Dalam menulis kata kerja tulis juga bentuk madhi dan mudhari`nya, begitu juga dalam menulis kata benda tulis bentuk mufrad dan jama`nya. Strategi yang digunakan adalah sebagai berikut:
a. Al-Kalimat al-Mutaqathi’ah. Strategi ini digunakan untuk lebih memantabkan penguasaan kosa kata dari teks wacana yang telah dipelajari siswa. Ia dapat digunakan sebagai strategi pembelajjaran yang menyenangkan tanpa kehilangan esensi belajar yang berlangsung.
b. Al-Kalimat al-Musalsalah. Strategi pembelajaran ini bertujuan agar siswa mempunyai pembendaharaan kata yang bervariasi dan mampu pula merangkainya dengan tepat dalam struktur kalimat bahasa Arab.
c. Ta’bir al-Kalimat al-Fabi’iyyah. Strategi ini fokus pada kemampuan siswa memproduksi kata dengan cepat dalam waktu yang relatif singkat.
d. ’Ardl al-Shuwar. Strategi ini dapat mendorong siswa untuk berekspresi dengan bebrbagai pembendaharaan kata yang terkait dengan objek maupun gambar.
e. Al-Kalimat al-Gharibah Takhru. Strategi ini menuntut siswa untuk lebih teliti dalam menelaah kalimat. Strategi ini sebenarnya merupakan pengembangan dari strategi ikhtiyar al-kalimat.
f. Kalimah Muwajjahah. Strategi ini cocok bagi siswa untuk mengetahui kata-kata mejemuk dalam bahasa Arab dengan cepat dan tepat.
6. Metode Pembelajaran Gramatika (Nahwu dan Shorof)
Para pakar bahasa menyatakan bahwa mempelajari gramatikal bukanlah merupakan tujuan, tetapi merupakan media untuk mengevaluasi kalam dan kitabah seseorang. Pada perkembangan terkini, pengajaran gramatika mulai berubah pola ajar dengan mengaitkannya dengan kebutuhan real bahasa keseharian peserta didik yaitu berkisar pada pola-pola (uslub) yang digunakan dalam teks wacana, teks istima’ atau membahas kesalahan-kesalahan yang ada pada hasil karangan peserta didik, baik kesalahan individu atau kesalahan umun. Pengajaran gramatika yang berdasarkan kebutuhan dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh peserta didik, terutama agar terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam menulis dan berbicara.
Menurut metode gramatika ini, pengetahuan kaidah-kaidah tata-bahasa dianggap lebih penting daripada kemahiran untuk menggunakan tata-bahasa itu. Kegiatan-kegiatan berupa latihan ucapan atau penggunaan bahasa secara lisan sama sekali diabaikan.
Strategi yang dapat digunakan dalam mengajarkan gramatika adalah Muskilat al-Thullab, Strategi pembelajaran ini dapat mengakomodasi kebutuhan dan harapan seluruh siswa, sehingga siswa yang pemalu sekalipun, karena ia memberi peluang kepada siswa menanyakan hal-hal yang belu dimengerti dari gramatika yang telah diajarkan.
7. Metode Pembelajaran Terjemah
Berdasarkan namanya, metode terjemah menitik beratkan kegiatan-kegiatannya berupa cara penerjemahan bacaan-bacaan. Biasanya, metode ini diawali oleh penerjemahan bahasa asing ke dalam bahasa pelajar, dan kemudian sebaliknya. Seperti halnya, metode gramatika, metode terjemah ini sangat cocok untuk kelas yang berjumlah besar dan tidak memerlukan seorang pengajar yang harus memiliki penguasaan bahasa asing secara aktif atau pendidikan khusus untuk mengajar bahasa. Metode ini tidak hanya mudah untuk melaksanakannya, tetapi juga murah. Kegiatan utama metode ini ialah proses penerjemahan, dan sama sekali tidak ada usaha untuk mengajarkan ucapan. Karena itu, setiap pelajaran memberi gambaran tentang kaidah bahasa, kata-kata yang harus diterjemahkan, kaidah tata-bahasa yang harus dihafal, dan latihan penerjemahan.
E. Ketrampilan Berbahasa
Keterampilan menurut Kamus besar bahasa indonesia (KBBI), berarti kemampuan, keahlian, kecakapan, cekatan, kelihaian dalam mengerjakan sesuatu ataupun memecahkan masalah. Keterampilan bisa juga di artikan sebagai suatu kemampuan menggunakan akal pikiran dan ide kreatif dalam melakukan ataupun membuat sesuatu menjadi lebih berguna atau bermakna, sehingga menghasilkan suatu nilai dari hasil tersebut. Dengan keterampilan seseorang mampu mengerjakan suatu pekerjaan secara efektif dan efisien.
Keterampilan terbagi menjadi dua yaitu keterampilan fisik dan keterampilan non-fisik. Keterampilan fisik seperti: membuat kerajinan, memasak, membangun bangunan, mengetik, dan lain sebagainya. Sedangkan keterampilan non-fisik seperti: mengajar, menyusun karya ilmiah, memimpin rapat, dan lain sebagainya. Ketermpilan cenderung di ikuti oleh kebiasaan, karena seseorang yang sudah terbiasa melakukan pekerjaan tersebut akan membuatnya menjadi terampil.
Keterampilan berbahasa terbagi menjadi empat yaitu sebagai berikut:
1. Keterampilan Mendengar (Maharat al-Istima’). Istimᾱ’ adalah proses menerima sekumpulan fitur bunyi yang terkandung dalam kosa kata, kalimat yang berkaitan dengan kata sebelumnya, dalam sebuah topik. Meskipun beberapa dikalangan tertentu hanya memahami sebatas “dengar” hearing), namun akan lebih tepat istimᾱ’ lebih kearah “menyimak” (auding) dengan tetap konteks.
Mendengar (menyimak) merupakan suatu keterampilan berbahasa pertama yang dilakukan oleh seseorang yang belajar bahasa tertentu, baik seorang bayi yang mulai belajar bicara atau bahkan orang dewasa yang ingin belajar bahasa lain. Dengan menyimak, seseorang dapat mengukur tingkat kesulitannya dalam belajar suatu bahasa karena dari sana dapat dipahami dialeknya, struktur bahasannya, pola pengucapannya dan lainnya.
2. Keterampilan Berbicara (Maharat al-Kalam). Keterampilan berbicara adalah kelanjutan dari keterampilan mendengar. Kedua keterampilan ini saling terkait, karena orang yang pendengarannya baik dimungkinkan untuk dapat berbicara dengan baik pula dan sebaliknya. Oleh karena itu, pengajar bahasa bisa melaksanakan pembelajaran keterampilan berbicara seraya mengiringi keterampilan mendengar yang telah dimiliki siswa. Pemahaman siswa tentan topik bahasan yang diperolehnya melalui proses mendengar dapat dimanfaatkan sebagai langkah awal pengajaran berbicara. Pada dasarnya keterampilan berbicara merupakan pengungkapan (ta’bir) dan isi pemikiran yang telah terekam di dalam pemahaman siswa.
3. Keterampilan Membaca (Mahârah al-Qirâah). Untuk memiliki keterampilan membaca (Mahârah al-Qirâah) yang baik dibutuhkan kecermatan tersendiri. Hal ini dikarenakan membaca merupakan kegiatan memahami isi pemikiran penulis yang tentu saja tidak sedang berada dihadapan pembaca. Kegiatan menarik pemahaman tersebut lebih sulit dibandingkan dengan pengambilan pemahaman melalui proses pembicaraan atau dialog yang melibatkan langsung antara pembicara (mutakallim) dan pendengar (sâmi'), di mana proses dialog tersebut dapat melibatkan bahasa tubuh yang dapat membantu terjadinya kesepahaman yang baik antara kedua belah pihak.
4. Keterampilan Menulis (Maharat al-Kitabah). Berbeda dengan keterampilan berbicara, keterampilan menulis relatif lebih sulit untuk dipelajari dan dikembangkan. Meskipun sulit dipelajari, keterampilan menulis tetap merupakan bagian yang penting, yang bermanfaat, yang menyenangkan. Keterampilan menulis dapat menggunakan beberapa tehnik, yaitu: menyalin, menjodohkan dan lain-lain.
Keterampilan menulis (Mahᾱrat al-Kitᾱbah)) merupakan keterampilan terakhir dalam beberapa keterampilan bahasa”. Untuk menguasai keterampilan ini secara baik dibutuhkan penguasaan keterampilan bahasa sebelumnya dengan baik pula. Hal ini dikarenakan menulis merupakan kegiatan menuangkan isi pikiran dalam bentuk tulisan yang tujuannya untuk dapat dipahami oleh pembaca yang tentu saja tidak sedang berhadapan atau bahkan tidak satu masa dengan penulis. Seluruh aspek bahasa yang meliputi penguasaan struktur (qawa'id), kosa kata (mufradat), sastra (balaghah), dan pilihan diksi yang baik (ikhtiyar alkalimah) sangat dibutuhkan dalam kegiatan menulis.
F. Konsep Dasar Setrategi Pembelajaran Mengajar Dan Belajar Dalam Standar Proses Pendidikan
A. Mengajar
1. Konsep mengajar
Konsep mengajar dalam proses perkembangannya masih di anggap sebagai suatu kegiatan penyampaian atau penyerahan ilmu pengetahuan.
Mengajar sebagai proses menyampaikan materi pelajaran
Sebagai proses menyampaikan atau menanamkan ilmu pengetahuan, maka mengajar mempunyai beberapa karakteristik sebagai berikut :
a. Proses pengajaran berpusat pada guru
Dalam kegiatan pengajaran, guru memegang peran yang sangat penting. Guru menentukan segalanya. Oleh karena itu begitu pentingnya peran guru maka proses pembelajaran baru akan berlangsung jika ada guru.
b. Siswa sebagai objek belajar
Konsep mengajar sebagai proses menyampaikan materi pelajaran menempatkan siswa sebagai objek yang harus menguasai materi ajar. Mereka di anggap sebagai organisme pasif yang belum memahami apa yang harus di pahami, sehingga melalui proses pembelajaran mereka di tuntut memahami segala sesuatu yang di berikan guru.
c. Kegiatan pengajaran terjadi pada tempat dan waktu tertentu
Proses pengajaran berlangsung pada tempat tertentu, misalnya di dalam kelas dengan penjadwalan yang ketat, sehingga siswa hanya belajar jika hanya ada kelas yang telah di desain sedemikian rupa untuk tempat pembelajaran.
Tujuan utama pengajaran adalah penguasaan materi pelajaran Keberhasilan suatu proses pembelajaran di ukur dari sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran yang di sampaikan oleh guru. Materi pelajaran itu sendiri adalah pengetahuan yang bersumber dari mata pelajaran yang di berikan di sekolah.
d. Mengajar sebagai proses mengatur lingkungan
Terdapat beberapa karakteristik dari konsep mengajar sebagai proses mengatur lingkungan. Antara lain Mengajar berpusat pada siswa (Student centered)
Mengajar tidak di tentukan oleh selera guru, akan tetapi sangat di tentukan oleh siswa itu sendiri. Hendak belajar apa siswa dari topik yang di pelajari, bagaimana cara mempelajarinya, bukan hanya guru yang menetukan tetapi juga siswa.
e. Siswa sebagai subjek belajar
Siswa tidak hanya di anggap sebagai organisme pasif yang hanya sebagai penerima informasi, akan tetapi di pandang sebagai organisme yang aktif yang memiliki potensi untuk berkembang.
f. Pembelajaran berorientasi pada pencapaian tujuan
Tujuan pembelajaran bukan hanya agar siswa menguasai materi pelajaran, tetapi lebih luas dari pada itu bahwa tujuan belajar adalah agar siswa merubah pola perilakunya menuju arah yang lebih baik.
2. Pengertian mengajar
Menurut S Nasution (2000); Mengajar adalah suatu aktifitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadilah proses belajar.
Makna mengajar dalam Standar Proses Pendidikan
Mengajar dalam konteks standar proses pendidikan tidak hanya sekadar menyampaikan materi ajaran, akan tetapi juga di maknai sebagai proses mengatur lingkungan supaya siswa belajar. Makna lain yang demikian sering di istilahkan dalam pembelajaran. Hal ini mengisyaratkan bahwa dalam proses belajar siswa harus di jadikan pusat dari kegiatan. Hal ini di maksudkan untuk membentuk watak, peradaban dan peningkatan mutu kehidupan peserta didik. Pembelajaran perlu memberdayakan semua potensi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang di harapkan. Pemberdayaan di arahkan untuk mendorong pencapaian kompetensi dan perilaku khusus supaya setiap individu mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat dan mewujudkan masyarakat belajar.
B. BELAJAR
1. Makna Belajar
Usaha pemahaman mengenai makna belajar ini akan di awali dengan mengemukakan beberapa definisi tentang belajar. Ada beberapa definisi tentang belajar, antara lain dapat di uraikan sebagai berikut :
Belajar senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan, misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Juga belajar itu akan lebih baik kalau si subjek melakukan sesuatu, jadi tidak terkesan verbalistik. Dalam arti sempit dapat di katakan bahwa belajar adalah usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagaian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya.
A. Faktor- faktor yang mempengaruhi belajar
a. Minat Secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.
b. Kecerdasan Telah menjadi hal yang cukup populer bahwa kecerdasan besar peranannya dalam berhasil dan tidaknya seseorang mempelajari sesuatu atau mengikuti sesuatu program pendidikan. Orang yang lebih cerdas pada umumnya akan lebih mampu belajar dari pada orang yang kurang cerdas di dalam lingkungan.
c. Bakat Bakat adalah suatu kemampuan manusia untuk melakukan suatu kegiatan dan sudah ada sejak manusia itu ada. Hal ini dekat dengan persoalan intelligensia yang merupakan struktur mental yang melahirkan “kemampuan” untuk memahami sesuatu.
d. Motivasi Motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu atau kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat.
B. Prinsip- prinsip belajar
Agar seseorang benar-benar belajar maka ia harus memiliki suatu
Orang itu harus bersedia mengalami bermacam- macam kesukaran dan berusaha dengan tekun untuk mencapai tujuan yang berharga baginya.
Belajar itu harus terbukti dari perubahan perilakunya.
Selain tujuan pokok yang hendak di capai, di perolehnya pula hasil-hasil sampingan.
Belajar lebih berhasil dengan jalan berbuat.
Seseorang belajar secara keseluruhan.
Dalam belajar seseorang memerlukan bimbingan dan bantuan dari orang lain.
Untuk belajar di perlukan “Insight” Di samping mengejar tujuan belajar yang sebenarnya, seseorang juga ingin mencapai tujuan lain, adanya kemauan dan hasrat.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar